Home

Advertisement

Customize

Perang Telepon

Feb. 21st, 2008 | 02:28 pm

Seperti kita semua sadari di media Indonesia sekarang ini sedang seru-serunya terjadi perang. Perangnya sampai membuat kepala saya pusing dan bosan. Bukan, bukan perang berdarah, tetapi pertempuran iklan-iklan promosi antara operator seluler yang satu dengan yang lainnya. Semuanya heboh dengan iklan-iklannya, terlalu banyak informasi yang hendak disampaikan, seolah menggempur otak kita lebih kencang lagi. Setiap operator seluler itu pasti memiliki otak-otak marketing dan finansial yang handal, bagaimana tidak apabila setiap berapa bulan sekali selalu terdapat promosi baru dan lebih murah dan murah lagi demi meraup konsumen yang lebih banyak, juga untuk berada di peringkat lebih tinggi dari operator kompetitor. Bulan kemarin XL mengumumkan promosi tarif Rp. 0.1,-/detik. Tiba-tiba bulan ini IM3 sudah mengultimatum promosi tarif Rp. 0.01,-/detik. Hebat bukan? Saya sendiri tidak terpikir darimana mereka memperoleh keuntungannya, tapi perhitungan mereka pasti hebat sekali hingga tetap memperoleh keuntungan dari tarif yang diajukan.

Namun dari iklan yang penuh kata-katanya itu saja, saya gak bisa menangkap intinya karena terlalu cepat dalam waktu 30-60 detik dan terlalu banyak yang ingin disampaikan. Akhirnya ujungnya saya harus membuka websitenya, saya mencari XL dan IM3, karena kebetulan menggunakan kedua operator tersebut. Operator lain sih saya tidak perduli.

im3_satu  im3_dua

XL
(you may click the image to enlarge)

Dari  tampilan iklan sendiri, saya lebih menaruh simpati pada operator produk luar negeri, yaitu 3 (Three). Iklannya tampil berbeda dari yang lainnya, tampil lebih elegan dan tetap tenang, sementara kompetitor lainnya mencoba untuk berteriak-teriak dan mulai menggempur dengan public icon (selebritis). Tapi lagu baru untuk promo mentari enak ya? Berbasis dari lagu Mika yang berjudul Lollipop. Sementara dari sisi keuntungan, tetap yang terbaik adalah esia dengan keuntungan tarif teleponnya, sayang saya belum beli...hehehehe... Kalau kamu, senang yang mana? :D

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

Mata Malas

Feb. 19th, 2008 | 07:51 pm

parishilton lazy eye

" Paris Hilton obviously has a lazy eye. The correct term for her condition is amblyopia. For many years, it has been believed that if the condition is not corrected when the subject is young, it can never be fixed, however, researchers have found otherwise. Therapy using a computer screen can teach people affected with amblyopia how to improve their contrast perception in the affected eye. "

Gue menemukan quote di atas dari suatu website yang lupa gue lihat link nya dan gue langsung tetarik karena penyakit mata itu persis dialami oleh mata kanan gue. Secara cepatnya, mata kiri gue bisa sekarang sudah minus 3 lebih gue rasa (sudah lama tak mengecek) tetapi mata kanan gue tidak ada minus, malah adanya silinder dibawah 1. Jadi sementara mata kiri gue terus bertambah minusnya, mata kanan gue akan tetap 0. Hal ini terjadi karena secara tidak sadar terlalu sering menggunakan mata kiri (tentu saja secara tidak disadari namanya juga penyakit. kalau gue melakukannya secara sadar mah namanya gue nyari penyakit). Gue karena terlena dengan keadaan dapat melihat secara jelas tanpa kacamata, jadi malas memakai kacamata, padahal penting juga. Fenomena yang unik bukan? Menurut wikipedia, lazy eye ini adalah penyakit Amblyopia yang diperkirakan diderita oleh 1-5% dari total populasi. Jadi, gue termasuk salah satu manusia langka, jadi, jagalah gue baik-baik. LoL.

Penderita Amblyopia cenderung memiliki kelemahan penglihatan akan kedalaman/perspektif, sehingga mendapat kesulitan dalam menemukan gambar tersembunyi dalam sebuah autostereogram. Autostereogram adalah gambar yang dibuat untuk mengelabui otak manusia agar melihat gambar 3 dimensi sebagai 2 dimensi.

Emang sulit bahasanya, tapi kalau melihat ini, pasti ngerti kan yang dimaksud dengan autostereogram?

autostereogram-shark

Sekarang gue paham kenapa sampai sekarang gue sama sekali tak mampu menemukan gambar di balik gambar 3D itu. Syukurlah ada penjelasan logisnya, kalau tidak gue akan merasa diri gue bodoh sekali. Bahkan walaupun gue sudah mendapat jawaban gambar tersembunyi tersebut, tetap saja loh gue gak bisa menemukannya. Ya, untung bukan bodoh, tapi Autostereogram (hehehehe....) Enaknya punya penjelasan logis, bisa ngeles jadinya =P

Oh iya, untuk autostereogram di atas, jawabannya ada seekor hiu di sana. Di sana di mana? Gue gak ngerti de, wong gak bisa ngeliat. hehehe....
Tags:

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

Fenomena Topik TA

Feb. 19th, 2008 | 02:52 pm

Mereka menyebutnya dengan skripsi, kami menyebutnya dengan tugas akhir. Intinya sih.... skripsi hasil keluarannya berupa tulisan banyak banget, sedangkan tugas akhir keluarannya berupa hasil proyek desain (misalnya, bikin publikasi, keluarannya buku, bikin promosi, keluarannya benda-benda promosinya) plus tulisan tidak terlalu banyak yang menjelaskan konsep dan latar belakang.

Si Tugas Akhir (TA) ini sekarang sedang menjadi topik yang sangat hot di perbincangan sesama teman seangkatan gue yang lusa akan segera dihajar (baca: masuk pertemuan kuliah TA pertama). Di messenger, setiap topik pembicaraan akan diawali dengan,

"Gimana TA?"
"Udah dapet 3 topik belum?"
"Hei, TA bikin apa aja?"
"Oh, gawat, gue belum nemu bahan nih!"
"Aaaaa.... gimana nih TA, pusing gue"

Begitulah fenomena belakangan ini (nyaris 2 minggu terakhir), topik pembicaraan menjadi monoton dan benar-benar hot, bahkan saking panasnya, benar-benar membuat kesal dan menjadi over sensitif setiap kali topik tersebut dibicarakan.

Kisah latar belakangnya sebenarnya dikarenakan hari jumat esok, kami harus membawa 3 alternatif topik untuk TA yang nantinya  dipilih satusajacukup oleh si dosen. Kekacauan otak kami timbul karena kami sebaiknya memilih 3 topik yang benar-benar akan kami senangi dalam pengerjaannya atau setidaknya memiliki data pendukung yang mencukupi. Gue selama 2-3 minggu terakhir cukup jadi supersering keluar-masuk toko buku demi mencari referensi dan ide untuk topik.

Gue sendiri saat ini sudah mendapatkan 2 topik (LUSA HARUS 3 LOH PADAHAL!) dan sekarang sedang pusing-pusingnya dengan topik ketiga. Topik pertama gue adalah membuat journal travel, dengan tujuan journal yang berbentuk semacam buku/agenda/scrapbook itu dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pecinta travelling, terutama yang juga memiliki kesenangan mengabadikan cerita perjalanannya. Ide ini gue dapat saat gue sedang membaca "Travelers' Tales", sejak terpikir topik tersebut gue pun lalu mulai gencar mencari buku-buku bertopik travel, baik buku travel (yang belum kubeli karena kok rata-rata mahal banget yah bo! Kemarin ini nemu buku bagus tapi 340.000 rupiah. Kemarin ini juga nemu buku "Culture Shock!", gue suka banget, tiap buku beda-beda negara, tapi satunya 150.000-an rupiah, dan gue gak bisa menentukan buku dengan topik negara mana yang harus gue beli, akhirnya gue menaruhnya kembali ke rak buku dengan perasaan merana dan terkoyak _ huehehehe... mulai berlebihan deh) maupun novel beraroma travel. Buku J.P.V.F.K. (Jakarta-Paris Via French Kiss) nya Syahmedi Dean yang tebel banget itu, bahkan mau tak mau langsung gue lahap dalam waktu sekitar 2 hari, demi mempercepat masuknya informasi ke otak dalam waktu mepet ini. Baru-baru ini juga gue baru beli buku non-fiksi berjudul The Naked Traveler, kelihatannya seru sekali isinya, tapi saking penuhnya otak ini dengan data-data yang harus dipersiapkan untuk Jumat esok, gue akan membacanya setelah jumat esok. So, ada yang punya refrensi lagi buku travel apa yang ok?

Oh ya, semacam survey kecil, ada yang tertarik untuk punya journal travel? :)


Topik kedua mendapat inspirasi dari buku "Warisan Kuliner Indonesia : Hidangan Betawi" oleh Wahyuni Mulyawati dan Ilse Harahap. Buku ini menarik bagi gue karena cara penyajian isinya sedikit berbeda dari kebanyakan buku resep lainnya. Di dalam buku ini tidak hanya berisikan resep-resep makanan betawi saja, tetapi juga menuliskan sepenggal cerita sejarah di balik hidangan betawi yang ternyata memiliki banyak pengaruh dari kebudayaan kuliner bangsa lain. Bukunya memang sudah 130 halaman, tapi kok gue masih merasa itu tipis ya untuk didesain ulang? Akhirnya, seandainya diperbolehkan baik oleh pihak dosen maupun pihak penulis buku, gue ingin lebih memperbanyak bagian sejarah (karena dalam hati kecil, gue menyenangi membaca sejarah, seolah menambah pengetahuan baru). Kebetulan kemarin ini main-main ke toko buku kecil di dekat kampus dan nemu buku "Betawi : Queen of The East" oleh Alwi Shahab (siapa sih dia? kok namanya gak asing di telinga saya? Ada yang tau?). Gue belum minta izin sama sang penulis sih.... tapi yaa..... nanti aja deh... hehehe.... masih ngejelimet banget otaknya.

Pernah telintas untuk mendesain ulang buku "Teh : minuman bangsa-bangsa di dunia". Tapi tidak jadi karena saat ngobrol-ngobrol dengan teman, sudah ada yang berencana menggunakan topik tersebut. Lalu sempat terlintas untuk menulis buku mengenai restoran peranakan di Jakarta, namun setelah dipikirkan lebih lanjut, topik tersebut akan menyulitkan dalam pencarian datanya dan waktu penulisan naskahnya (secara gue baru mulai terpikir minggu kemarin). Ingin juga membuat buku tentang Warong Shanghai Blue 1920, sebuah restoran peranakan dengan konsep fine-dining, namun rasanya waktu sudah mengais-ngais di hadapan gue. Gue juga males sih sebenarnya harus bikin janji segala dengan si pemilik untuk melakukan survey. Sekarang gue sedang panik-paniknya dalam hati karena belum juga menemukan topik ketiga, tetapi mencoba untuk stay cool. hehehe....

Penyesalan selalu datang belakangan.

Sebuah kalimat yang selalu benar kemana-mana, sebab gak make sense kalau menyesal dulu baru bertindak. hehehe.... Iya, gue nyesel (again), kenapa baru mulai memikirkan topik dan liat-liat buku untuk inspirasi 2 minggu kemarin? Oh, well, kali ini gue punya alasan sih (it just feels good when we had something to blame on), kelar KP (kerja praktek) adalah 3 minggu yang lalu. Setelah itu datang musibah banjir, setelah itu minggu penuh persiapan untuk imlekan. Baru deh mulai mikirin TA. hehehehehe...... alesannnn banget deh lu!!!

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

Sebulan Sekali

Feb. 3rd, 2008 | 09:57 pm
mood: PMS
music: Ayumi Hamasaki ~ Together When...

Ada kalanya satu kali dalam satu bulan di mana gue merasa sakit jiwa. Kejiwaan gue terasa terganggu dan tidak normal, di mana semua pikiran negatif meresap ke dalam otak gue, menjadikannya kosong agar mudah dicuci ulang dan mulai menghipnotis perasaan gue agar menjadi orang yang jahat dengan melihat segala hal di sekitar gue secara negatif. Di kala seperti ini, gue menjadi paling sebal dan paling menyebalkan. Di journal gue yang lebih tua, entah sudah berapa entri yang menyebutkan keadaan ini.

Rasa ini, rasa dimana inginnya marah.
Rasa ini, saat dimana semuanya ingin diluapkan.
Rasa ini, inginnya hanya menyalahkan orang lain.
Rasa ini, keraguan yang tak terbantahkan,
walau tak pernah tahu apakah memang benar.
Rasa ini, tak seorangpun, tak seorangpun,
kecuali waktu yang dapat memahaminya dan,
membuangnya jauh hingga segalanya stabil.

 Gue jadi mikir, selama ini gue selalu bilang "Orang stress kok sampai mau bunuh diri sih? Bego banget?". Tapi sekarang gue jadi mikir "Jangan-jangan saking gak kebendung dan gak tau mau diluapkan ke mana, gue bisa ngiris-ngiris tangan gue sendiri?". Ya, tapi sungguh, gue baru sadar, masa-masa ini saat racun meresapi otak dan perasaan gue, gue gak pernah bisa membaginya dengan siapapun, melalui tulisan hanyalah sebagian dari pelepasan. Kalau engga? Mungkin di tangan gue udah banyak sayatan? 0_o. Kadang bicara dengan Tuhan melegakan, namun tetap membuatnya berputar-putar di dalam kepala. Jangan-jangan, gue butuh psikolog? Engga mungkin ah. Masa sih? Ummm.....
Tags:

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

Getaran Tak Terlupakan

Jan. 30th, 2008 | 11:02 pm

Kalau ditanya, pengalaman naik kendaraan apa yang paling mengesankan selama hidup di Jakarta? Gue akan menjawab langsung "bajaj" , iya, kendaraan yang buntet beroda tiga dan berwarna orens gonjreng itu dengan getarannya yang asoy! Rasanya ada kesan-kesan tersendiri kalau naik bajaj, udah suaranya yang berisik, getarannya juga bikin pantat kesemutan pas turun.

Kendaraan penuh kenangan itu sekarang udah sirna di Jakarta, well gak sepenuhnya sirna sih. Lebih tepatnya mulai tergantikan dengan bajaj versi baru yang kurang asoy getaran dan suaranya. Bajaj sekarang dikampanyekan sebagai kendaraan ramah lingkungan yang menggunakan bahan bakar gas, sehingga asap buangannya pun tidak sedahsyat dulu, ditambah lagi dengan pengurangan terhadap polusi suara juga warnanya yang sudah kurang asik lagi.

Bagus sih dengan adanya kendaraan yang lebih eco friendly, akan lebih bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan manusia. Tapi boleh dong kangen dengan bajajku dulu?

bajaj lama bajaj baru

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

livejournal mengerikan

Jan. 29th, 2008 | 01:59 am

Gue barusan baca buku Raditya Dika ke-3, dan sekali lagi, belum selesai setelah lewat pindah-pindah buku. Gue heran aja sama pengalaman hidup manusia kok ada yah yang kayak pengalaman hidup dia? Kayaknya..... ummm..... apa itu kata yang paling tepat? ummm.... unreal? abnormal? yah itulah semua, hal-hal yang paling sering gue denger dan nonton di film-film di televisi. But, good for him then, he must having a very exciting life ^^.

Anyway, gue tau ini udah malem, udah subuh bahkan. Tapi setelah ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila pura-pura gila di kamar, gue jadi gak bisa tidur. Badan sih udah narik-narik tidur, si bantal dan kasur udah mau ngiket gue di kasur tadi, tapi ternyata otak gue masih kekeh untuk online, demi ngecek journal. Bayangkan itu!

Terlintas di kepala gue, hummm... okay, gue butuh bacaan sesama makhluk Indonesia yang bisa berbahasa Indonesia yang tinggal di Indonesia dan kebetulan ada fasilitas untuk mencari manusia-manusia itu lewat 'region' based. Gue ketiklah "Jakarta", yang nongol cuman sedikit, gak asik ah. Gue coba lagi "Kota Banjir", eh gak ada ternyata hehehe.... Akhirnya gue ketik "Indonesia" dan keluarlah itu userpics berbelas-belas dan pages berpuluh-puluh. Hooooo.... asik, ada temennya di Livejournal, selain temen yang orangnya gue kenal.

Perlahan-lahan gue mengeklik beberapa username yang namanya atau userpic nya menarik perhatian gue. Tak lama, setelah 5 pages berlalu gue merasakan ada tanda-tanda aneh, namun masih belum paham apakah itu. Begitu gue klik page ke-8, tiba-tiba gue semakin deg-degan. Owkeh? Ini horor loh! Dari 50 userpics yang muncul dalam 1 page, 85% didominasi oleh userpics yang berbau dan berpenampilan "jepang", mulai dari anime, komik, sampai selebritis jepang. Gue cukup lebihbaikmenghindari mereka yang maniak jepang, terutama maniak pria-pria jepang yang mirip dengan wanita, karena biasanya mereka yang seperti itu, benar-benar maniak. Ah, ok, maniak terlalu jleb, diganti dengan ngefansberatsampaikoleksidanmengidam-ngidamkan. Gue juga takut dengan mereka dengan alasan yang pernah gue kemukakan pada entri tentang kursus blogging. Wah, mengingatkan gue untuk lebih hati-hati nih.

Somehow, lucu juga, di tengah browsing username itu, sewaktu gue ngebuka sebuah journal, gue kaget langsung "Loooohhh? Kok di foto yang dipajang pada entri terbarunya orangnya gue kenal? That's my ex-lecturer and my ex-internship-supervisor! Loohh?!" Ternyata itu bukan journal dia, tapi journal temennya dia dengan memajang foto bersama dia saat pesta pernikahan dia baru-baru ini yang juga gue hadiri sebenarnya. ^^ She's such a nice person. 

PS : Gue sendiri pecinta Jepang juga, ingin ke sana, senang menonton dorama jepang, senang dengerin musik jepang, dulu pecinta anime juga, sekarang masih hobi banget baca komik jepang. Tapi yah hanya saja, gak terobsesi, itu saja. 

CK (catatan kaku) : Entri-entri yang gue tulis, hanya sekedar pendapat gue pribadi yang bersifat sangat subjektif. Don't mind gue mau nulis apa, kalau itu gak sesuai dengan pendapat kamu. Tapi kalau kamu mau menyatakan ketidaksetujuan, yah silahkan disertakan pendapatnya di komen, dan pasti akan gue baca dan tanggapi dengan dada berbulu yang lapang (teteup =P). Itu hak setiap orang untuk menyuarakan pendapatnya bukan? Tentu iya.

Link | mau komen? | 7 | | Add to Memories | Tell a Friend

Perpustakaan Buku

Jan. 28th, 2008 | 04:10 pm

Suka membaca buku? *ya, lumayan.
Suka membeli buku? *jarang yah.
Suka menulis buku? *belum pernah tuh.
Suka melihat cover buku? *ho oh.
Suka numpang baca buku? *engga, malas.
Suka nyewa buku? *pernah, tapi engga lagi de.
Suka minjem buku? *kadang-kadang.

Suka ke perpustakaan? *kalo ada perlu saja.
Suka nongkrong di perpustakaan? *kalo ada temannya. hehe...

Ingin beli buku? *yah pastinya.
Ingin ngoleksi buku? *bangettt.

Ingin punya perpustakaan? *impian banget.

Kenapa gue suka membaca buku, tapi jarang membeli ataupun meminjam buku? Gue merasa membiasakan membeli buku, akan menjadikannya salah satu hobi baru gue, dan gue gak mau itu sampai terjadi dengan alasan harga buku tidaklah semurah harga makanan di warteg, semurah-murahnya seharga makanan di restoran. Apalagi kalau buku yang dibeli adalah novel yang tebal, yang pastinya kalau sudah memiliki koleksi banyak, agak malas untuk membaca yang sudah dibaca. Biasanya ditelantarkan (disimpan) saja, yah mungkin sih kalau membacanya ulang, tapi seberapa banyak yang akan dibaca ulang? seberapa sering? Setelah membiasakan diri membeli novel, gue yakin otak konsumsi gue akan menyuruh gue untuk beli lagi, ada yang baru, beli lagi, baru lagi, bagus pula, beli aja, dan seterusnya. Gue mengkhawatirkan akan disimpan di mana buku-buku itu? Gue cenderung menyayangi barang-barang yang gue beli, jarang banget gue asal meletakkannya. Gue akan selalu tahu di mana gue meletakkan barang yang gue beli dan gue sayangi itu, yeah, gue mengakui diri sebagai orang yang cukup rapi menyimpan barang (tapi tidak mengakui bahwa kamar gue rapi jali). Jadi, jangan heran kalau gue akan inget selalu barang-barang yang gue pinjamkan, dan sewaktu-waktu akan gue tagih. Ini bukan pelit kan? Udah gue pinjemin gituh, kalau kelamaan minjemnya, wajar dong kalau gue tagih? Karena itu gue punya prinsip sendiri bahwa, sebisa mungkin mengembalikan barang pinjaman secepatnya, jangan berlarut-larut.

Ngomong-ngomong, gue udah lupa apa yang dibicarakan sebelumnya? hehehe... bentar, baca ulang dulu. Oh, sampai "khawatir akan disimpan di mana buku-buku tersebut." Ya, selain itu, gue juga khawatir keuangan gue akan merosot akibat memenuhi hobi baru gue, padahal nyari duit aja belom bener. Gue lagi bingung, setiap bulannya, kenapa selalu pasti tabungan gue akan berkurang setengah dari yang diberikan orang tua. Kemana larinya uang-uang itu gue gak ngerti? Setengah loh! bayangkan! bukan jumlah yang sedikit. Tapi untungnya gue udah melaporkan ke polisi soal kaburnya si uang dari rumah. Mudah-mudahan ketemu secepatnya. (dari mana coba baliknya? NGAREP!!)

Kenapa gak minjem buku aja dari temen? Gue minjem kok, cuman kadang-kadang. Hehehe...  Gue akan minjem buku dari teman kalau gue yakin gue akan cepat menyelesaikan membaca buku itu karena gue punya kebiasaan baca buku borongan di mana buku satu belum selesai, baca lagi yang lain, trus yang lain lagi baru deh nanti balik lagi ke buku yang satu trus bergilir dan bergilir. Jadi, sebenarnya, kemampuan baca gue rendah, masih harus dieja dulu satu persatu (yah, enggaklah!). Tapi, saat gue konsen dan benar-benar keasikan, gue akan menyelesaikan membaca buku itu dalam satu kali pandang (gile, canggih bener?), yang artinya gak berhenti sampai buku itu selesai dibaca, tentunya dengan diselingi makan, nonton, minum, ke toilet, mandi, sikat gigi, ngerjain proyek dan tidur kadang-kadang.

Trus gue juga punya kebiasaan judging book by its cover. hahahaha.... pernah suatu kali gue beli sebuah novel karena covernya putih (yeah, setelah diperhatiin, koleksi novel chicklit gue rata-rata bercover putih) dan ilustrasinya bagus, akhirnya gue beli (walaupun dengan diskon). Isinya? Lumayan sih, tapi gak sebagus itu. =P. Mungkin secara gue orang visual kali ya? Jadi cover buku yang menarik tampilannya pasti langsung gue perhatiin baik-baik, bukan berarti langsung dibeli. Jadi proses gue membeli sebuah buku biasanya panjang : sinopsis, rekomended dari kenalan, bestseller, tema buku, penulisnya, cover buku, dan terakhir harga buku. Kalau dari sinopsis sampai tema buku berhasil memikat gue, biasanya 3 terakhir menyusul untuk pertimbangan terakhir.

Salah satu impian gue yaitu membangun perpustakaan sendiri (iya dong, private :D biar terawat dan terkontrol) yang isinya ada lemari-lemari berisi buku-buku mulai dari buku desain, craft, novel, motivasi, sejarah, psikologi, self-help, masakan, yahh apapunlah yang menarik buat gue tentunya; serta meja, bangku, audio dan sofa. Would be so lovely ^^. Tapi tentunya, lagi-lagi butuh keuangan yang mencukupi. hehehe... susah yah memang jadi manusia? Maunya banyak, tapi gak mau usaha keras. =P

Link | mau komen? | Add to Memories | Tell a Friend

Advertisement

Customize